Blog Ping Tool

Selasa, 20 November 2012

Budaya Ngamen Anak Muda



Sudah tidak asing lagi ketika kita mendengar kata ngamen, karena bukan hanya mendengarnya saja, bahkan hampir setiap hari kita melihat ataupun menjumpai orang-orang yang ngamen. Pengamen, itulah sebutan bagi orang-orang yang melakukan aktifitas tersebut. Bahkan ngamen sekarang sudah menjadi sebuah pekerjaan yang dapat menghasilkan uang. Sekarang pun pekerjaan ngamen tidak mengenal usia lagi, dari anak kecil yang berumur 5 tahun sampai orang dewasa yang berumur 50 tahun. Jika dalam agama, mengemis dilarang karena hanya meminta-minta kepada orang lain tanpa melakukan suatu usaha sebagai timbal balik, tetapi entah dengan ngamen, karena ngamen yang tujuannya juga mengharapkan rezeki dari orang lain, tetapi sebagai timbal baliknya, seorang pengamen menyanyikan lagu-lagu atau menyajikan hiburan kepada orang lain.
Budaya ngamen pun sekarang sudah berkembang. Memang dilihat dari tujuannya secara umum, ngamen adalah sebuah pekerjaan yang tentu saja mengharapkan uang. Ada juga sebagian kecil orang-orang yang ngamen, hanyalah sebuah hobi untuk menyalurkan bakatnya di depan umum. Selain itu, budaya ngamen pun berbeda-beda dilihat dari usia. Bagi kalangan anak kecil usia antara 5 sampai 12 tahun yang tidak terlalu mendominasi (hanya 15-25%), mereka yang belum terlalu bisa berpikir, kebanyakan mereka ngamen karena disuruh orang tertentu. Bagi kalangan dewasa usia 30 sampai 50 tahun yang juga tidak terlalu mendominasi (15-25%), mereka sudah mampu berpikir dewasa. Mereka pun sudah mempunyai tujuan yang jelas sebagai seorang pengamen, yaitu untuk mendapatkan uang. Dan yang membedakan dengan kalangan anak muda adalah dari segi cara mereka ngamen. Bagi mereka umumnya, ngamen tidaklah sembarangan, mereka benar-benar memanfaatkan kesempatan agar dapat menghibur orang-orang, sehingga orang-orang tersebut merasa terhibur dan empati, sehingga dapat memberikan sedikit rezekinya. Hal lain yang membedakan kalangan ini dengan kalangan anak muda pun, mereka sudah mampu mengontrol emosinya, menjaga etika dan moralnya walaupun sebagai seorang pengamen.
Selanjutnya adalah permasalahan yang umumnya adalah di kalangan anak muda, karena kebanyakan anak muda, pemikirannya pun bisa belum berpikir secara jernih, dan masih belum sepenuhnya menguasai emosi, moral dan etikanya. Sedangkan pekerjaan ngamen kebanyakan dari kalangan anak muda usia 16 sampai 29 tahun (sekitar 50-70%). Jika kita berada di luar, di warung-warung kecil, rumah makan, warkop atau di warnet, kebanyakan kita melihat pengamen pada usia yang tergolong kalangan anak muda. Mereka ngamen pun kebanyakan untuk mencari uang, karena adanya faktor-faktor lain sehingga mereka belum bisa mendapatkan pekerjaan yang lain. Permasalahannya sekarang adalah budaya ngamen di kalangan ini. Mereka cenderung berpikir bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan timbal balik atas yang mereka berikan dari ngamen, yang penting mereka dapat menghasilkan uang sebanyak-banyaknya.
Budaya ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Jika di kalangan anak kecil, mereka menyanyikan lagu-lagu sebisa mereka saja, walaupun tidak terlalu menghibur, dan setelah mereka ngamen, mereka hanya berkata “Kak!”, “Buk!”, atau “Pak!”, sambil berharap akan ada yang memberikan uang kepada mereka, dan setelah itu mereka pergi. Jika di kalangan dewasa, mereka pun ngamen cenderung mempunyai cara-cara khusus, seperti membawa alat-alat musik tertentu yang bervariasi, melakukan pertunjukan di jalanan, dan tanpa berkata untuk meminta uang dari orang lain, sambil berharap akan ada yang memberikan rezekinya. Tetapi permasalahannya sekarang adalah di kalangan anak muda. Kebanyakan dari mereka menyanyikan lagu dengan menggunakan gitar, dengan gaya anak jalanan, dan cara mereka untuk mendapatkan uang dari orang lain pun bermacam-macam tanpa memperhatikan etika dan moralnya. Sebagai contoh, ketika mereka sudah menyanyikan lagu, kata-kata yang mereka keluarkan adalah “Seribu, dua ribunya!”. Secara tidak langsung, mereka berharap akan diberikan uang minimal seribu rupiah atau dua ribu rupiah. Itupun, tidak semua dari mereka yang ketika tidak mendapatkan uang seribu rupiah atau dua ribu rupiah langsung pergi, tetapi ada juga yang masih menunggu sampai mereka diberikan uang seribu rupiah atau dua ribu rupiah. Budaya lain dari mereka, misalnya ketika dalam suatu tempat mereka ngamen, tidak ada satu orang pun yang memberikan uang kepada mereka, mereka akan terus bernyanyi, hingga nada yang semakin tidak menghibur bahkan meresahkan, sampai ada yang memberi mereka uang. Apakah cara-cara seperti ini masih bisa disebut ngamen? Budaya seperti ini bahkan lebih cenderung kepada budaya premanisme tapi tidak secara langsung. Inilah yang perlu diantisipasi lagi oleh kita sebagai masyarakat umum, agar nantinya para pengamen muda dapat menyadari apa yang mereka lakukan, dan dapat menjaga moral dan etikanya.

Jangan lupa follow blog ini ya ^_^

2 komentar:

  1. menurut saya, ngamen itu bukan pekerjaan..tapi karena ingin dapat uang dengan lebih mudah. CMIIW :)

    BalasHapus
  2. Mantap artikelnya gan,,
    ngamen bukan cuma sekedar pekerjaan tapi bisa karena hoby di musik yang disalurkan untuk menghibur sesama alias sosial,,
    lanjut gan bikin artikel lagi donk tentang ngament :)

    BalasHapus